
PANGALENGAN – Drs. KH. Eri Ridwan Lathif, M.Ag Ketua Panitia Pelaksana sekaligus salah satu Ketua di jajaran MUI Kabupaten Bandung, menegaskan pentingnya penguatan peran ulama dan posisi strategis MUI sebagai mitra pemerintah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada penutupan Dauroh Ulya MUI Kabupaten Bandung di SMP Prima Cendekia Islami, Pangalengan, yang berlangsung pada 22 hingga 23 November 2025.
Menurut Ustadz Eri, tantangan umat yang semakin kompleks menuntut MUI untuk memperkuat perannya melalui program Taqwiyatu Qiyadatil Ulama (penguatan kepemimpinan ulama), baik secara personal maupun institusional.
”MUI dipandang perlu untuk memperkuat peran ulama, karena ulama adalah benteng akidah dan moral umat,” ujar ustadz Eri di hadapan para peserta Dauroh Ulya.
Ia lantas menekankan bahwa sebagai pelayan umat (Khodimul Ummah), MUI harus memiliki program-program yang nyata dan berdampak dalam membangun kehidupan di masyarakat. Menurutnya, konsistensi antara perencanaan dan implementasi adalah kunci keberhasilan organisasi.
”Ingat, konsep tanpa aksi hanya ilusi. Sementara aksi tanpa konsep hanya sensasi. Kita tidak ingin MUI hanya berkonsep indah tanpa implementasi, pun tidak ingin bergerak tanpa pijakan yang jelas,” tegasnya.
Mitra Jujur Berdasarkan I’anatan wa Taqwiman
Lebih lanjut, Eri Ridwan Lathif menjelaskan posisi strategis MUI dalam konteks kenegaraan. Ia menekankan bahwa MUI mengambil peran sebagai mitra pemerintah yang Shadiqun Shodiq (mitra yang jujur dan benar).
Hubungan kemitraan tersebut, imbuhnya, harus berlandaskan dua pijakan utama, yaitu I’anatan wa Taqwiman—membantu pemerintah sekaligus meluruskan atau mengoreksi.
”MUI harus menjadi teman jujur bagi pemerintah daerah. Kita membantu pemerintah dalam menjalankan program keumatan, namun kita juga punya kewajiban untuk meluruskan (taqwiman) melalui tausiyah yang konstruktif, jika ada kebijakan yang dinilai kurang sejalan dengan kepentingan umat dan syariat,” jelasnya.
Dauroh Ulya MUI Kabupaten Bandung ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelatihan, namun juga menjadi titik balik penguatan internal ulama dan pengurus MUI agar mampu menerjemahkan visi khodimul ummah dan shadiqun shodiq secara efektif di tengah masyarakat.